Beranda | Artikel
Lebih Cinta Diingat Oleh Allah Daripada Diingat Oleh Makhluk
Kamis, 6 Agustus 2009

MENGOBATI PENYAKIT RIYA’ DAN BERLEPAS DIRI DARINYA(6/6)

7. Do’a
Obat ini merupakan satu cara yang paling baik untuk menghancurkan riya’ dan syirik, maka janganlah Anda berhenti untuk berdo’a selagi Anda mampu untuk melakukannya, dan ambillah selalu kesempatan untuk mempergunakan waktu-waktu yang mustajab di dalam berdo’a dengan disertai adab-adab dalam berdo’a.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kita semua yaitu satu do’a agar terlepas dari syirik yang kecil maupun syirik yang besar, beliau bersabda, “Syirik yang menimpa kalian itu lebih tersembunyi daripada langkah semut, dan aku akan menunjukkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian melakukannya, maka Allah akan menghilangkan syirik yang besar maupun yang kecil dari kalian, ucapkanlah oleh kalian:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَ أَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ.

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik kepada-Mu sedangkan aku mengetahuinya dan aku memohon ampunan kepadamu dari berbuat syirik yang tidak aku ketahui.”1

8. Rasa takut bahwa riya’ tersebut adalah kesempatan terakhir bagi amal Anda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُبْعَثُ النَّاسُ عَلَى نِيَّاتِهِمْ.

Seluruh manusia akan dibangkitkan atas niat-niat mereka.”2

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ.

Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan ketika ia mati.”3

9. Banyak melakukan amal kebaikan yang tidak disaksikan oleh orang lain, dan tidak memberitahukannya kepada orang lain kecuali jika dibutuhkan
Seperti melakukan shalat malam, menangis dalam keadaan menyendiri karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, melakukan puasa sunnah, sedekah dengan sembunyi sembunyi, mendo’akan saudara dari kejauhan, dan melakukan shalat selain yang wajib di dalam rumah.

10. Bersahabat dengan orang yang tampak di pandangan Anda bahwa mereka adalah orang yang selalu melakukan keikhlasan, amal shalih dan ketakwaan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ. صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيْرِ الْحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ، وَكِيْرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيثَةً

Perumpamaan antara teman yang baik dan yang buruk adalah bagaikan tukang minyak wangi dan tukang pandai besi, tidak akan ada yang terlepas dari tukang minyak wangi bisa jadi engkau membelinya, atau engkau akan mendapatkan wanginya yang harum. Dan dari tukang pandai besi bisa jadi ia bisa membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan baunya yang tidak sedap.”4

Orang yang ikhlas tidak akan pernah merugikan Anda sedikit pun, sedangkan orang yang bersikap riya’ atau melakukan kesyirikan, jika tidak akan membakar Anda di dalam Neraka pada hari Kiamat, maka Anda akan mendapatkan bau busuk penyakit riya’ yang tidak sedap, dan yang akan menjadikan Anda lebih menyukai sikap riya’ juga kesyirikan tersebut. Semoga Allah melindungi kita darinya.

11. Takut melakukan riya’
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang sebagian hamba-ham-ba-Nya yang shalih:

وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ﴿٢٥﴾قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ﴿٢٦﴾فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ﴿٢٧﴾إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ ۖ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ

Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab).’ Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab Neraka. Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” [Ath-Thuur/52: 25-28]

Rasa takut akan perbuatan maksiat adalah yang memberikan manfaat bagi mereka dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang takut akan sesuatu, maka dia akan selalu berhati-hati darinya sehingga dia selamat, sedangkan orang yang merasa aman darinya, maka dia akan jatuh kepadanya, karena itu di antara do’a yang sering diucapkan oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang mencerminkan bahwa beliau takut dari perbuatan syirik, sehingga beliau banyak berdo’a:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.”

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha, beliau berkata, “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berdo’a dengan berkata: يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah ha-tiku pada agama-Mu).”5

12. Menjauhi celaan Allah
Di antara rahasia yang menjadikan seseorang melakukan riya’ adalah lari untuk menjauhi celaan manusia, tetapi apakah Anda benar lari dari celaan? Maka larilah dari celaan Allah, jika Anda berusaha agar orang lain senang kepada Anda dengan sesuatu yang menjadikan Allah marah, maka Allah akan marah dan membenci Anda, apakah Anda takut akan kemarahan manusia? Sebenarnya Allah lebih berhak Anda takuti, maka manakah di antara keduanya yang lebih Anda dahulukan, apakah mendahulukan rasa takut akan celaan manusia? Atau rasa takut akan celaan Allah? Dan hayatilah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka apakah (Allah) Yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.” [An-Nahl/16: 17]

Lalu pilihlah apa saja yang Anda kehendaki, sungguh seluruhnya ada di dalam perhitungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

13. Lebih cinta diingat oleh Allah daripada diingat oleh makhluk
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al-Baqarah/2: 152]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku selalu bersamanya jika dia mengingat-Ku, jika dia mengingat-Ku di dalam jiwanya, maka Aku mengingatnya di dalam Diri-Ku, jika dia menyebut Nama-Ku di hadapan khala-yak, maka Aku akan menyebut namanya di hadapan khalayak yang lebih baik (Malaikat) darinya, jika dia mendekati-Ku dengan satu jengkal, maka Aku mendekatinya dengan satu hasta, jika dia mendekati-Ku dengan satu hasta, maka Aku akan mendekatinya dengan satu depa dan jika dia menghadap-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan lari-lari kecil.’”6

Apakah Anda tidak senang jika Allah menyebut nama Anda di hadapan makhluk yang lebih utama dari semua makhluk yang hidup di atas bumi (Malaikat)? Dan apakah Anda lebih mengutamakan pujian manusia daripada pujian Allah, atau apakah Anda lebih mengutamakan manusia daripada para Malaikat?

14. Mengetahui segala sesuatu yang dapat mengusir syaitan
Sesungguhnya syaitan adalah sumber sikap riya’ dan kesyirikan, bahkan semua kejelekan adalah kegiatannya -hanya kepada Allah kita semua berlindung darinya- dan telah dijelaskan sebelumnya bahwa syaitan hadir bersama kita dalam setiap kesempatan, bahkan mereka mengirimkan pasukannya.

[Disalin dari buku “IKHLAS: Syarat Diterimanya Ibadah” terjemahkan dari Kitaabul Ikhlaash oleh Syaikh Husain bin ‘Audah al-‘Awayisyah. Penerjemah  Beni Sarbeni, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Bogor]
______
Footnote
1  Shahiihul Jaami’ (no. 3625) dengan sanad yang shahih.
2  Shahiihul Jaami’ (no. 7871).
3  Shahiihul Jaami’ (no. 7872).
4  HR. Al-Bukhari.
5  Shahiihul Jaami’ (no. 4677).
6  Shahiihul Jaami’ (no. 7993) dengan sanad yang shahih.


Artikel asli: https://almanhaj.or.id/2481-lebih-cinta-diingat-oleh-allah-daripada-diingat-oleh-makhluk.html